Rabu, 16 Desember 2020

The Power of Process

NIKMATNYA SEBUAH PROSES

Hallo Sahabat Fillah, Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat dan jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan ya, sebagai bentuk ikhtiar kita semua terhadap virus covid-19 yang merajalela saat ini. 

Sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ke-2-3 dari surat Al-'Ashr yang memiliki arti: "Sesungguhnya seluruh manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran" . Begitu ruginya kita sebagai manusia, jika kita tidak menggunakan waktu yang telah diberikan untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena orang yang tidak memanfaatkan waktu secara optimal, maka dia sama dengan orang yang telah menyia-nyiakan hidupnya. Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti.  

Seperti halnya "waktu" yang diriku rasakan, dimana tidak terasa pada hari ahad, 26 Juli 2020 merupakan perkuliahan terakhirku di Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta. Sedih rasanya kegiatan perkuliahan terakhirku ditutup secara daring dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu dan virus covid-19 semakin merajalela di penjuru dunia. Pada akhirnya aku dan teman-teman kembali melakukan aktivitasnya masing-masing, kita berpisah begitu saja tanpa adanya canda tawa dan bercengkrama.

Target! ya aku teringat kembali akan target yang sudah dibuat yaitu bisa lulus tepat waktu. Qodarullah, aku tidak bisa mencapai target yang sudah dibuat. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan tanggung jawab ku dalam menuntaskan tugas akhirku dengan mengikuti alur yang ada. Setidaknya aku masih memiliki target, ya target disetiap harinya harus ada progres perkembangan tugas akhirku walaupun hanya sedikit. Aku sangat menikmati proses dalam penyusunan tugas akhir ini, mulai dari nyebar angket di MI kecamatan Pamulang, bolak-balik ke Depok untuk bimbingan, mencari 200 referensi yang masih kurang, dan cek plagiarisme. 

Hampir nyerah? YA! Disaat kondisi badan sudah tak bisa diajak kompromi, namun cek plagiarisme tak kunjung usai. Bisa terhitung berapa kali badanku melemah selama penyusunan tugas akhir ini. Ternyata kuliah sambil kerja itu cukuplah menguras tenaga, pikiran dan waktu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Pada akhirnya terbesitlah pikiran untuk menyerah! Bagaimana tidak terbesit, waktu untuk mencapai standar maksimal 30% plagiarisme sangatlah banyak. Sampai enam kali diri ini bolak balik (kirim-revisi) untuk mencapai standarisasi plagiarisme yang dibuat dari kampus. Tetapi hati dan pikiran terus memberikan support, dengan mengingatkan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Akhirnya semangat itu kembali bangkit dan akhirnya diriku bisa menurunkan plagiarisme sampai 28%. Masya Allah bener-bener terasa banget perjuangan menjalani program studi magister ini. Bener ya apa kata orang dulu "Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin berat ujiannya, dan pastinya semakin terasa ilmu yang dimilikinya tidak ada apa-apanya alias banyak kurangnya".  

Setelah itu, aku melengkapi semua persyaratan untuk pendaftaran sidang Tesis. Akhirnya dihari ahad, 29 November 2020 aku mendaftarkan diri supaya bisa mengikuti sidang Tesis di tanggal 7 Desember 2020. Alhamdulillah Qodarullah, semua persyaratan sudah terpenuhi dan aku sangat menikmati proses ini sampai akhirnya aku diperbolehkan untuk mengikuti sidang pada tanggal yang sudah ditentukan oleh pihak kampus. 

Setelah pendaftaran sidang selesai, entah kenapa langsung terbesit banyak pertanyaan yang mucul dipikiranku salah satunya yaitu "Siapkah anda mendapat gelar MAGISTER?" Tentu jawaban aku adalah BELUM SIAP. Well, karena aku memastikan bahwa orang-orang yang berada diluar sana beranggapan bahwa aku adalah perempuan pintar yang mempunyai segudang ilmu pengetahuan serta bisa menjawab semua pertanyaan yang akan mereka tanyakan (bukan berarti aku ke-PD-an tapi nyatanya seperti ini hehe). Tapi, SIAP GAK SIAP aku harus SIAP menghadapi itu semua. Bagiku, gelar MAGISTER ini merupakan gelar yang penuh tanggung jawab di dalamnya. Menuntutku untuk terus belajar dan belajar. Inilah salah satu alasan aku melanjutkan studi ke jenjang S2, karena aku merasa ilmu yang kumiliki amat sangat banyak kurangnya. Tetapi aku juga tidak bisa terlalu lama dalam menyelesaikan tugas akhirku, Karena ini memang tugas dan tanggung jawabku sebagai anak kepada kedua orang tuaku untuk mengakhirkan studi magister ini secara cepat dan pastinya membuktikan kepada kedua orang tuaku, bahwa kumampu mengenyam pendidikan lebih tinggi dari mereka.  

Teruntuk kamu yang sedang berjuang dalam menyusun tugas akhir, teruslah semangat pantang menyerah. Jangan lupa disetiap aktivitas yang kamu lakukan selalu libatkan Allah kapanpun dan dimanapun. Disamping itu, lebih giat lagi menunaikan ibadah wajibnya dan bisa juga dibantu dengan Perbanyak mengerjakan amalan sunnahnya. Karena usaha tanpa do'a kepada-Nya adalah SOMBONG, do'a tanpa usaha adalah SIA-SIA akan tetapi jika kita mengerjakan keduanya yaitu doa dan usaha diakhiri dengan tawakal, maka insya Allah akan diberikan banyak jalan. Ingat! SKENARIO ALLAH ITU INDAH😊 

Kuucapkan terimakasih banyak untuk kamu yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita perjalanan S2 ku ini. Semoga cerita ini bisa memotivasi dan menginspirasi kamu untuk terus semangat dalam berjuang. Barokallah Fiikum 🙂

Berikut kulampirkan progres ku selama menyusun tugas akhir di S2 ini. Semoga kamu bisa lebih cepat selesainya dalam mengerjakan tugas akhir  dibandingkan aku. Semangat para pejuang!


With Love, @Ifat_Fathihah

1 komentar: