Senin, 21 Desember 2020

Tulisan adalah Do'a

 "Berawal dari tulisan menjadi kenyataan" 


Hallo sahabat fillah, gimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat ya dan semoga selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin 

Walaupun kondisi di tahun 2020 ini bisa dibilang banyak ujian dan cobaan, tapi percayalah akan ada cerita indah dibalik semua kejadian ini. Kenapa? Karena Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 286, yang artinya: "Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannya". 

Oia sahabat fillah, aku mau tanya ke kalian? Kalian percaya gak tentang sebuah tulisan yang bisa menjadi kenyataan? Kalau kalian percaya, mari kita tos👋 karena aku pun percaya bahwa tulisan yang kita tulis dimanapun akan menjadi kenyataan. 

Bagaimana bisa aku percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Simak baik-baik ya ceritanya (buguru mulai mendongeng nih😂) Cerita ini dibuat tidak ada maksud RIYA atau hal apapun. Cerita ini juga belum sehebat orang-orang hebat diluar sana, tetapi cerita ini dibuat supaya sahabat fillah semakin percaya dan semakin yakin bahwa Allah itu akan mengabulkan impian-impian kita. 

Mari kita mulai ceritanya.... 

Berawal dari keisengan aku yang membuka buku agenda harian ketika aku duduk dibangku SMA. Aku menemukan sebuah tulisan yang aku tulis dikala itu, ya aku menulis beberapa harapan, keinginan dan impian aku. Di buku agenda harian itu terpampang jelas dan nyata, bahwa diriku menulisnya pada tanggal 25 Januari 2014 dan baru kubuka kembali pada tanggal 5 Oktober 2020.

 Siapa yang sangka, ternyata beberapa dari impian yang aku tuliskan itu ada yang terkabul. Bahkan sangat merasakan impact nya sekarang. Ternyata membuat remaja islam merupakan salah satu impianku dikala itu, alhamdulillah aku berhasil mewujudkannya dan sampai saat ini remaja islam sudah berjalan tahun ke-5 semenjak aku dan teman-teman remaja lainnya yang menggerakkannya. 

 Qodarullah mungkin ini jalan Allah untukku khususnya, awalnya aku sangat meng-impikan bisa masuk kedunia kedokteran ketika kuliah kala itu. Tetapi aku tidak lolos SNMPTN, selain itu aku juga sangat meng-impikan bisa kuliah diluar negeri sampai akhirnya aku memutuskan utk ikut daftar kuliah ke kairo, tetapi alhasil tidak bisa ikut tes lisan dan tulis dikarenakan waktunya bersamaan dengan umroh. Pada akhirnya aku memilih opsi yang terakhir yaitu kuliah di UIN Jakarta dengan mengambil jurusan PGMI di fakultas tarbiyah. Alhamdulillah aku lolos dan diterima melalui ujian mandiri kala itu. 

 Skenario Allah itu memang luar biasa dan tidak ada tandingannya. Mungkin ini jalan Allah untukku, Allah menakdirkanku untuk kuliah di UIN supaya bisa sekalian menggerakkan remaja islam di rumah sekaligus mensejahterakan masyarakat sekitar melalui kegiatan sosial yang sudah dilaksanakan selama 2 tahun 4 bulan. 

 Masya Allah luar biasa nyata adanya, ternyata apa yang kita tulis dahulu dibuku ataupun dilembaran kertas kemudian disimpan dengan baik. Setelah beberapa tahun kedepan, kita akan merasakan beberapa harapan dan impian yang sudah kita tulis akan menjadi sebuah doa dan dikabulkan Tuhan. 

Maka dari itu, sebelum terlambat! Kuingin mengajak teman-teman, yuk tulis harapan dan impian teman-teman sebanyak-banyaknya. Kemudian simpan tulisan tersebut dengan baik dan lihat hasilnya dibeberapa tahun kedepan. Ya walaupun ada beberapa harapan yang tidak dan belum terkabul. Percayalah! Bahwa hanya Allah lah sebaik-baiknya skenario. Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha, berdoa, berikhtiar dan bertawakal. 

 Oia jangan sampai salah fokus sama impianku dinomor 15 ya😂 mohon doanya supaya diriku segera dipertemukan dengan orang yang tepat🙂 

Let's Try It Guys😉 

Tulisan = Do'a!

With love,

@ifat_fatihah



Pejuang TA 2020

 

SIDANG TESIS 2020

Sebagaimana Allah telah berfirman: 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (Surat Al Insyirah, ayat 5). 

Setelah melewati perjuangan kurang lebih setahun ku menyusun tugas akhir di pascasarjana ini. Diawali dengan pencarian judul yang tepat sampai menjadi sebuah karya tulis. Akhirnya momen yang kunantikan tiba! ya tepat pada hari Senin, 07 Desember 2020 merupakan momen yang sangat berkesan bagiku. Dimana momen tersebut adalah momen bagiku untuk mempertanggung jawabkan hasil karya tulis ku kepada dosen penguji dan dosen pembimbing serta momen yang menandakan bahwa sebentar lagi aku akan menuntaskan perkuliahanku di pascasarjana ini. 

Dimana sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa diriku bisa sampai sejauh ini melangkah di dalam dunia pendidikan. Qodarullah lagi-lagi Allah Maha Baik, memberikan kesempatan kepada diriku untuk bisa mengenyam pendidikan sampai S2 ini secara tuntas. Apalagi diusia yang terbilang tergolong sangatlah muda yaitu 23 Tahun, kubisa menuntaskan pendidikan sampai S2. Masya Allah walhamdulillah tidak pernah berhenti rasa syukur yang selalu kupanjatkan kepada-Nya. 

Dengan persiapan yang tidak maksimal untuk sidang tesis esok hari, dikarenakan kondisi abi yang terbaring lemah karena sakit yang membuat pikiranku terus memikirkannya. Mau tidak mau, aku harus bisa fokus mempersiapkan dan mempelajari materi-materi yang sudah kutulis di dalam tesisku. 

Alhamdulillah aku mendapatkan urutan yang ke-5 dari 7 peserta yang ikut sidang dihari senin tersebut. Ya, persidangan dilakukan secara online dikarenakan pandemi covid-19 yang tak kunjung pergi. Namun walaupun dilakukan sidang secara online, tidak mengurangi rasa tegang, gemetar dan penuh keringat dingin seperti persidangan yang dilakukan secara offline seperti biasanya yaitu pelaksanaan di kampus (diruang munaqosah). Alhamdulillah setelah menunggu cukup lama dengan menahan keringet dingin, akhirnya namaku dipanggil oleh admin untuk join room di zoom bersama dosen penguji dan dosen pembimbing. Persidanganpun dimulai, diawali dengan diriku yang diberi waktu untuk mempresentasikan hasil penelitian yang diperoleh dan dilanjut dengan beberapa pertanyaan serta koreksian oleh dosen penguji dan dosen pembimbing. 

Alhamdulillah all is well! Aku percaya tidak ada hasil yang menghianati proses. Alhamdulillah aku bisa menjawab pertanyaan yang diberikan dosen penguji dan dosen pembimbing dengan baik. Persidangan pun berakhir dengan khidmat dan rasanya semua beban yang kupikul selama ini akhirnya rontok semuanya hehe. Setelah persidangan berakhir, akupun menunggu pengumuman hasil penilaian dan kelulusan yang diumumkan oleh Prof. Darwis selaku ketua sidang. Qodarullah, Allah Maha Baik! Tidak disangka, dengan persiapan yang tidak maksimal. Aku bisa mendapatkan nilai tertinggi diantara peserta sidang dihari senin tersebut. Ya, aku mendapatkan nilai ujian tesis 91 dengan IPK 3,55 yudisium "Amat Baik". Lagi-lagi aku bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. 

Akhirnya aku dinyatakan SAH untuk menambahkan gelar baru dibelakang namaku yaitu menjadi seorang M.Pd (makin percaya diri hehe). Begitu amat berat tanggung jawab yang kumiliki saat ini, terutama tanggung jawab ku kepada Allah sang pemilik semesta ini. Dengan mengucapkan BASMALAH, kuawali langkahku utk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kuyakin aku pasti bisa menjalani kehidupan yang akan terjadi kedepannya, selama kita semua selalu melibatkan-Nya disetiap aktivitas yang kita lakukan. 

Ada Pesan dari ibu dosen S1 untuk ku: 

"Lakukan apa yang semestinya kamu lakukan" 

1) Kita belajar karena merasa belum pintar 

2) Gelar adalah penanda saja kalau belajar dibidang tertentu 

3) Terus berkarya, karena karya bukanlah soal gelar. 

Jadi, jangan khawatir akan tanggung jawab yang dipikul ketika memiliki gelar baru. Jadikan semua ini diniatkan untuk lillah dan pastinya mengharapkan ridhoNya. Teruslah belajar, belajar, dan belajar. Bukankah dalam sebuah hadits sudah sangatlah jelas penjelasannya bahwa kita semua diperintahkan untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat. 

اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ 

Artinya : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat” 

Semoga kita semua dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aamiin YRA 

Yuk, kita baca doanya! 

Dalam kitab Bidayah Al-Hidayah Imam al-Ghazali menyebutkan suatu doa yang bersumber dari hadits Rasulullah Saw supaya dilindugi dari ilmu yang tidak bermanfaat: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ وَدُعَاءٍ لَايُسْمَعُ 

Artinya: “Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, amal yang tidak diangkat (diterima), dan doa yang tidak didengar.” 

Demikianlah kisah perjalananku untuk sampai menjadi seorang magister. Semoga bermanfaat🙂

With love,

@ifat_fatihah



Rabu, 16 Desember 2020

The Power of Process

NIKMATNYA SEBUAH PROSES

Hallo Sahabat Fillah, Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat dan jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan ya, sebagai bentuk ikhtiar kita semua terhadap virus covid-19 yang merajalela saat ini. 

Sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ke-2-3 dari surat Al-'Ashr yang memiliki arti: "Sesungguhnya seluruh manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran" . Begitu ruginya kita sebagai manusia, jika kita tidak menggunakan waktu yang telah diberikan untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena orang yang tidak memanfaatkan waktu secara optimal, maka dia sama dengan orang yang telah menyia-nyiakan hidupnya. Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti.  

Seperti halnya "waktu" yang diriku rasakan, dimana tidak terasa pada hari ahad, 26 Juli 2020 merupakan perkuliahan terakhirku di Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta. Sedih rasanya kegiatan perkuliahan terakhirku ditutup secara daring dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu dan virus covid-19 semakin merajalela di penjuru dunia. Pada akhirnya aku dan teman-teman kembali melakukan aktivitasnya masing-masing, kita berpisah begitu saja tanpa adanya canda tawa dan bercengkrama.

Target! ya aku teringat kembali akan target yang sudah dibuat yaitu bisa lulus tepat waktu. Qodarullah, aku tidak bisa mencapai target yang sudah dibuat. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan tanggung jawab ku dalam menuntaskan tugas akhirku dengan mengikuti alur yang ada. Setidaknya aku masih memiliki target, ya target disetiap harinya harus ada progres perkembangan tugas akhirku walaupun hanya sedikit. Aku sangat menikmati proses dalam penyusunan tugas akhir ini, mulai dari nyebar angket di MI kecamatan Pamulang, bolak-balik ke Depok untuk bimbingan, mencari 200 referensi yang masih kurang, dan cek plagiarisme. 

Hampir nyerah? YA! Disaat kondisi badan sudah tak bisa diajak kompromi, namun cek plagiarisme tak kunjung usai. Bisa terhitung berapa kali badanku melemah selama penyusunan tugas akhir ini. Ternyata kuliah sambil kerja itu cukuplah menguras tenaga, pikiran dan waktu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Pada akhirnya terbesitlah pikiran untuk menyerah! Bagaimana tidak terbesit, waktu untuk mencapai standar maksimal 30% plagiarisme sangatlah banyak. Sampai enam kali diri ini bolak balik (kirim-revisi) untuk mencapai standarisasi plagiarisme yang dibuat dari kampus. Tetapi hati dan pikiran terus memberikan support, dengan mengingatkan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Akhirnya semangat itu kembali bangkit dan akhirnya diriku bisa menurunkan plagiarisme sampai 28%. Masya Allah bener-bener terasa banget perjuangan menjalani program studi magister ini. Bener ya apa kata orang dulu "Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin berat ujiannya, dan pastinya semakin terasa ilmu yang dimilikinya tidak ada apa-apanya alias banyak kurangnya".  

Setelah itu, aku melengkapi semua persyaratan untuk pendaftaran sidang Tesis. Akhirnya dihari ahad, 29 November 2020 aku mendaftarkan diri supaya bisa mengikuti sidang Tesis di tanggal 7 Desember 2020. Alhamdulillah Qodarullah, semua persyaratan sudah terpenuhi dan aku sangat menikmati proses ini sampai akhirnya aku diperbolehkan untuk mengikuti sidang pada tanggal yang sudah ditentukan oleh pihak kampus. 

Setelah pendaftaran sidang selesai, entah kenapa langsung terbesit banyak pertanyaan yang mucul dipikiranku salah satunya yaitu "Siapkah anda mendapat gelar MAGISTER?" Tentu jawaban aku adalah BELUM SIAP. Well, karena aku memastikan bahwa orang-orang yang berada diluar sana beranggapan bahwa aku adalah perempuan pintar yang mempunyai segudang ilmu pengetahuan serta bisa menjawab semua pertanyaan yang akan mereka tanyakan (bukan berarti aku ke-PD-an tapi nyatanya seperti ini hehe). Tapi, SIAP GAK SIAP aku harus SIAP menghadapi itu semua. Bagiku, gelar MAGISTER ini merupakan gelar yang penuh tanggung jawab di dalamnya. Menuntutku untuk terus belajar dan belajar. Inilah salah satu alasan aku melanjutkan studi ke jenjang S2, karena aku merasa ilmu yang kumiliki amat sangat banyak kurangnya. Tetapi aku juga tidak bisa terlalu lama dalam menyelesaikan tugas akhirku, Karena ini memang tugas dan tanggung jawabku sebagai anak kepada kedua orang tuaku untuk mengakhirkan studi magister ini secara cepat dan pastinya membuktikan kepada kedua orang tuaku, bahwa kumampu mengenyam pendidikan lebih tinggi dari mereka.  

Teruntuk kamu yang sedang berjuang dalam menyusun tugas akhir, teruslah semangat pantang menyerah. Jangan lupa disetiap aktivitas yang kamu lakukan selalu libatkan Allah kapanpun dan dimanapun. Disamping itu, lebih giat lagi menunaikan ibadah wajibnya dan bisa juga dibantu dengan Perbanyak mengerjakan amalan sunnahnya. Karena usaha tanpa do'a kepada-Nya adalah SOMBONG, do'a tanpa usaha adalah SIA-SIA akan tetapi jika kita mengerjakan keduanya yaitu doa dan usaha diakhiri dengan tawakal, maka insya Allah akan diberikan banyak jalan. Ingat! SKENARIO ALLAH ITU INDAH😊 

Kuucapkan terimakasih banyak untuk kamu yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita perjalanan S2 ku ini. Semoga cerita ini bisa memotivasi dan menginspirasi kamu untuk terus semangat dalam berjuang. Barokallah Fiikum 🙂

Berikut kulampirkan progres ku selama menyusun tugas akhir di S2 ini. Semoga kamu bisa lebih cepat selesainya dalam mengerjakan tugas akhir  dibandingkan aku. Semangat para pejuang!


With Love, @Ifat_Fathihah

Senin, 06 Januari 2020

All about life


USIA, PENDIDIKAN, PERNIKAHAN
Memasuki usia 20-an, ini adalah masa peralihan menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Sebagian orang mengatakan bahwa usia tersebut benar-benar memasuki usia yang mulai rawan. Kenapa disebut rawan? Karena frekuensi kehidupan dimulai! Dimulai dengan siap menghadapi banyaknya tantangan dan pertanyaan yang terlontar dari orang-orang sekitar. Entah tantangan hidup dan pertanyaan seputar Pendidikan, karir, sampai pertanyaan tentang pasangan hidup. Oia sebelumnya survey membuktikan bahwa, pada Usia 20-an setiap individu sudah memulai membuat alur kehidupannya masing-masing. Diantaranya terdapat 50% dari orang-orang sekitar memutuskan untuk melanjutkan Pendidikannya di bangku perkuliahan dan 50% dari orang-orang sekitar ada yang memutuskan untuk memilih bekerja. Intinya kalau di dalam Bahasa kerennya sih biasa disebut “Back to yourself”. Semua kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari kata “Perjuangan”. Ya, kita dituntut untuk terus berjuang walaupun terkadang banyak ombak yang menerjang, karena disitulah kita diuji seberapa kuat dan bertahannya kita dalam menghadapi arus ombak yang datang secara tiba-tiba.
Pastinya setiap individu memiliki alasannya masing-masing untuk memilih antara melanjutkan Pendidikan atau bekerja. Bagiku, bersyukurlah buat kalian yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk melanjutkan Pendidikan di bangku perkuliahan. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) betapa dimuliakannya orang yang menuntut ilmu dihadapan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi terkadang orang yang memutuskan untuk melanjutkan Pendidikan di bangku perkuliahan, masih banyak yang suka mengeluh dan kurangnya bersyukur karena begitu banyak tugas yang diberikan oleh para dosen.  Padahal kalau dijalani dengan ikhlas dan mengharap ridho dari-Nya pasti semuanya akan selesai pada waktunya. Berbeda dengan orang yang bekerja, begitu kerasnya dunia kerja. Dimana kita harus siap secara lahir dan bathin di tempat kerja yang kita tempati. Banyaknya tuntutan dari atasan, harus bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja, dan harus bisa memahami karakter antar individu. Memang benar bahwa hidup itu gak ada yang enak, semuanya butuh proses dan perjuangan.
Lain halnya lagi, banyak kekhawatiran dan kegelisahan yang terjadi di lingkungan masyarakat sekarang. Sebagian orang mengatakan kepada anak perempuan, agar jangan terlalu tinggi mengemban Pendidikan dibangku perkuliahan. Misal kuliah S2 dan S3. Karena menurut mereka, anak perempuan yang Pendidikannya terlalu tinggi membuat para lelaki merasa minder.  karena diriku merupakan seorang perempuan, menurutku perempuan wajib berpendidikan tinggi. Kenapa? Karena gen kepintaran, kecerdasan dan sifat yang dimilikinya akan menurun kepada keturunannya kelak. Perempuan dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, berpikir cerdas, dan pemberani. Karena perempuan akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak dan dengan menjadi perempuan yang cerdas maka akan mencetak keturunan yang cerdas pula. Bagaimana kalau menurutmu?! 
Pernikahan di usia 20-an menjadi hal yang krusial, setiap orang sudah ditentukan takdirnya masing-masing oleh Allah SWT. Sebagian dari orang-orang terdekat telah ditakdirkan bertemu dengan jodohnya dan sebagiannya lagi ada yang belum dipertemukan dengan jodohnya, tetapi percayalah semua akan datang di waktu yang tepat. Buat kalian yang belum dipertemukan dengan pasangan hidupnya, jangan khawatir. Allah sedang memberi kesempatan kepada kalian untuk memperbaiki diri dan memperdalam lagi ilmu tentang pernikahan. Seperti perkataan Ummu Fatih: "Kita tidak bisa memaksa Allah untuk menuruti keinginan kita, tetapi kita masih bisa melatih hati kita untuk percaya bahwa apapun yang DIA tetapkan pasti yang terbaik". Karena pernikahan bukan hanya sekedar ijab dan qabul antara kedua belah pihak dan dijadikan sebagai penghilang nafsu belaka. Tetapi pernikahan dilakukan untuk menyempurnakan sebagian agama dengan niat untuk beribadah dan mengharap ridho-Nya. Karena pernikahan tidak bisa dipermainkan, ia hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup dan bagi orang-orang yang sudah siap untuk menikah, berarti ia diminta untuk siap menjalani komitmen dan konsekuensi bersama sampai akhir hayat.